Pagi itu 7 Juni 2014 saya masih tertidur pulas di atas kasur yg amat sangat empuk sekali, maklum, anak kost kalau pulang larut malam, tidur ditempat seperti apapun itu pasti pulas sekali, haha.. apalagi tempat tinggal yg sekarang ini so beautiful... wkwkwk.. OKEY kita kembali ke topik, pagi itu sebenarnya saya dan rekan2 seperguruan pencak silat,, oops.. (rekan-rekan kerja dari salah satu bank swasta di jakarta yg memiliki moto "Jutaan Keluarga Satu Bank") akan menggelar acara perpisahan Manager karena masa jabatannya yg telah berkhir, (Pensiun Dini), perpisahan ini di adakan secara nonformal, di sebuah tempat dengan mengambil tema alam, (pemikiran sendiri) sebut saja Nanggewer-Cibinong-Bogor. Chek it Out..!!!
Yups... mobil jemputanpun telah tiba 1 jam lebih awal dari jadwal yg telah ditentukan, yaitu jam 09:30 Wib sayapun masih meringkuk di kasur tadi, tanpa saya sadari saya pun terbangun, dan melihat Handphone menunjukan pukul 08:14 dan sebuah notifikasi pesan singkat dari sang ibu (Budhe) yg isinya, saya disuruh cepat berangkat ke kantor karena jemputan telah tiba, sayapun langsung cengkat ngagorenjal (bangun dengan sigap.. hahaha..) dan langsung masuk ke kamar mandi gebur2.. dengan air secukupnya (hihi.. mandi kadal kalau kata orang sundanyamah), dikamar mandi lagi gosok gigi terdengar suara handphone berdering saya pun lekas kumur-kumur dan ambil handuk, alhasil tetangga kamar terutama cewek-cewek genit pada teriak, melihat saya lari gundal-gandul pakai handuk secuil.. (kebayang gak sih.. hahaha...)
dan saya pun segera masuk kekamar dengan teregesa-gesa, diangkatlah itu handphone yg dengan nama pemanggil "Pak Herman" beliau bilang, "Toto kamu dima? segera datang ke tempat penjemputan didepan pintu gerbang kantor, (tepatnya Jl. Hayam Wuruk No. 84-85 Jakarta) saya tunggu karena sudah mau berangkat" saya pun menjawab, segera pak, saya tidak jauh dari kantor, saya akan segera tiba, dan sayapun bergegas secepat kilat, Wussshhh...!!!
Tibalah saya bertemu pak Herman, sayapun dipersilahkan masuk ke dalam mobil bak seorang Pangeran yang mau pergi meninggalkan Istana (wkwkwkwwk Lebay...) dalam perjalan dari kantor kita sudah berencana untuk menuju rumah seseorang, sebut saja Budhe. yang berlokasi di dekat Kantor Percetakan Negara.
O iya, Just Info; Budhe ini adalah seorang pengawas didivisi saya CSO (Pajak Impor Barang & Trade Loan [pengurusan dokumentasi Bank Garansi, Impor, Ekspor, dan sejenisnya])
tidak terasa menelusuri Jl. Hayam Wuruk, Jl. Veteran, Gunung sahari, pasar senen kami lewati dengan cukup cepat karena masih pagi, belum begitu macet.
Sesampainya di Depan Gedung Percetakan Negara, terlihat dari perlintasan rel kereta dari kejauhan Budhe sedang menunggu saya di halte bersama sang suami yang setia menemani (suami budhe ini masih muda dan gagah "Keren Bingit kalau kata anak jaman sekarang") . Sayapun turun mempersilahkan Budhe untuk masuk ke mobil, dan membantu memasukan beberapa bingkisan untuk dibawa ke acara, sebelum saya ikut masuk sayapun sempat ber tegur sapa dengan si Om (suaminya Budhe). dan berlanjut menjemput Mbak Yuli yang tidak begitu jauh dari tempat budhe.
Setelah berhasil menemukan budhe dan mbak Yuli dari persembunyiannya kamipun tak berhenti sampai disini, masih harus melanjutkan perjalanan menuju rumah seorang SPV. (hehe...) yang bagi saya beliau sebagai seorang pahlawan sang penyelamat, ketika pekerjaan saya "salah" dan bisa "tertangkap basah" sebelum di approve, (selmet.. selamet.., tapi malu hehe) beliau adalah kang Oten, Yups, saya suka memanggilnya "kang Teten" (sapaan orang sunda untuk se orang laki-laki yang berusia di atas kita).
Disinilah petualangan seru, menegangkan dan sedikit menguras tenaga dan emosi, karena pada saat mencari persembunyian kang Oten, sulit sekali membaca peta arahannya, mengingat seorang Guide (bang Herman) sepertinya kebingungan juga untuk mencarinya dimana/kearah mana? kepala sayapun mulai terasa pusing karena kebanyakan merunduk membaca SMS, tak sedikit juga kamipun terus menghubungi kang oten by Phone, dan akhirnya pucuk di cinta ulampun tiba, karena tanpa beliau kamipun tidak akan jadi berangkat, ketemu juga akhirnya, sayapun sempat mengikuti kang oten dan membantu mengambilkan beberapa bingkisan dirumahnya. (sekedar info saja pada saat itu di rumah kang Oten sedang di adakan pengajian yang diselenggarakan oleh para ibu-ibu).
Semua rekan-rekan dari cabang Hayam Wuruk akhirnya terkumpul, meski sedikit kurang lengkap karena tanpa kehadiran Manager kami yang kebetulan pada pekan itu lagi cuti beliau bernama pak Boy Wilhelm Lerrick, (Keren yah namanya, seperti seorang penulis buku dari Jerman) hehe.. peace buat pak Boy, dan juga mbak pelenuk alis mbak Dyan yang tidak bisa ikut hadir juga, karena mau pulang kampung ke Kampoeng Ngapak (Kebumen).
Sekitar kurang lebih dua jam perjalanan dari Jakarta kamipun tiba di tempat tujuan “Nanggewer” siang itu waktu menunjukan pukul 11:38 Wib. Terlihat telah ada beberapa rekan-rekan yang datang lebih awal dan sedang membantu memasak dan mempersiapkan hidangan, Ada mbak Nunik, Suami, dan Anaknya, Pak Anwar & Istri (yang punya hajat) Pak Mabek sabahat saya yang telah mengajari saya tentang sebuah pekerjaan, Good Job buat pak Mabek ‘n Thank a Lot, Mbak Fina juga selaku Manajer CSO dari cabang WTC II Sudirman terlihat sedang berdiri dan tersenyum menyambut kedatangan kami yang waktu itu kebetulan hanya saya yang terlihat manis dan Ngganteng (Hahay… PD Buanged..) ada Juga Firda, Mba Dina, Mae, dan yang lainya, selang bebera menit, tiba rombongan dari Bogor yang saya nantikan, si Teteh Montok… (haha..) teh Indah rekan-rekan, pak Faris juga selaku Head Manager tiba di Lokasi.
Disinilah kebersamaan meskipun terlihat sederhana kami merasakanya seru dan sangat berkesan WHOEVER THEY LIKE MY FAMILY (siapapun mereka seperti keluarga saya). Bukan seperti apa mereka kami disana apa yang kami lakukan, tapi rasa kebersamaan yang dikemas seperti kekeluargaan yang bagi saya pribadi sangat berkesan.
Semoga acara seperti ini bisa terus berlanjut untuk kedepannya dan bukan hanya karena ada sebuah perpisahan melainkan untuk kita saling bertukar pikiran mengenai pekerjaan dan yang lainnya, tentunya yang dapat menjadikan kita bisa saling memahami dan terus menjaga kebersamaan.
Thank for all. Sampai bertemu kembali diacara berikutnya.
Tibalah saya bertemu pak Herman, sayapun dipersilahkan masuk ke dalam mobil bak seorang Pangeran yang mau pergi meninggalkan Istana (wkwkwkwwk Lebay...) dalam perjalan dari kantor kita sudah berencana untuk menuju rumah seseorang, sebut saja Budhe. yang berlokasi di dekat Kantor Percetakan Negara.
O iya, Just Info; Budhe ini adalah seorang pengawas didivisi saya CSO (Pajak Impor Barang & Trade Loan [pengurusan dokumentasi Bank Garansi, Impor, Ekspor, dan sejenisnya])
tidak terasa menelusuri Jl. Hayam Wuruk, Jl. Veteran, Gunung sahari, pasar senen kami lewati dengan cukup cepat karena masih pagi, belum begitu macet.
Sesampainya di Depan Gedung Percetakan Negara, terlihat dari perlintasan rel kereta dari kejauhan Budhe sedang menunggu saya di halte bersama sang suami yang setia menemani (suami budhe ini masih muda dan gagah "Keren Bingit kalau kata anak jaman sekarang") . Sayapun turun mempersilahkan Budhe untuk masuk ke mobil, dan membantu memasukan beberapa bingkisan untuk dibawa ke acara, sebelum saya ikut masuk sayapun sempat ber tegur sapa dengan si Om (suaminya Budhe). dan berlanjut menjemput Mbak Yuli yang tidak begitu jauh dari tempat budhe.
Setelah berhasil menemukan budhe dan mbak Yuli dari persembunyiannya kamipun tak berhenti sampai disini, masih harus melanjutkan perjalanan menuju rumah seorang SPV. (hehe...) yang bagi saya beliau sebagai seorang pahlawan sang penyelamat, ketika pekerjaan saya "salah" dan bisa "tertangkap basah" sebelum di approve, (selmet.. selamet.., tapi malu hehe) beliau adalah kang Oten, Yups, saya suka memanggilnya "kang Teten" (sapaan orang sunda untuk se orang laki-laki yang berusia di atas kita).
Disinilah petualangan seru, menegangkan dan sedikit menguras tenaga dan emosi, karena pada saat mencari persembunyian kang Oten, sulit sekali membaca peta arahannya, mengingat seorang Guide (bang Herman) sepertinya kebingungan juga untuk mencarinya dimana/kearah mana? kepala sayapun mulai terasa pusing karena kebanyakan merunduk membaca SMS, tak sedikit juga kamipun terus menghubungi kang oten by Phone, dan akhirnya pucuk di cinta ulampun tiba, karena tanpa beliau kamipun tidak akan jadi berangkat, ketemu juga akhirnya, sayapun sempat mengikuti kang oten dan membantu mengambilkan beberapa bingkisan dirumahnya. (sekedar info saja pada saat itu di rumah kang Oten sedang di adakan pengajian yang diselenggarakan oleh para ibu-ibu).
Semua rekan-rekan dari cabang Hayam Wuruk akhirnya terkumpul, meski sedikit kurang lengkap karena tanpa kehadiran Manager kami yang kebetulan pada pekan itu lagi cuti beliau bernama pak Boy Wilhelm Lerrick, (Keren yah namanya, seperti seorang penulis buku dari Jerman) hehe.. peace buat pak Boy, dan juga mbak pelenuk alis mbak Dyan yang tidak bisa ikut hadir juga, karena mau pulang kampung ke Kampoeng Ngapak (Kebumen).
Sekitar kurang lebih dua jam perjalanan dari Jakarta kamipun tiba di tempat tujuan “Nanggewer” siang itu waktu menunjukan pukul 11:38 Wib. Terlihat telah ada beberapa rekan-rekan yang datang lebih awal dan sedang membantu memasak dan mempersiapkan hidangan, Ada mbak Nunik, Suami, dan Anaknya, Pak Anwar & Istri (yang punya hajat) Pak Mabek sabahat saya yang telah mengajari saya tentang sebuah pekerjaan, Good Job buat pak Mabek ‘n Thank a Lot, Mbak Fina juga selaku Manajer CSO dari cabang WTC II Sudirman terlihat sedang berdiri dan tersenyum menyambut kedatangan kami yang waktu itu kebetulan hanya saya yang terlihat manis dan Ngganteng (Hahay… PD Buanged..) ada Juga Firda, Mba Dina, Mae, dan yang lainya, selang bebera menit, tiba rombongan dari Bogor yang saya nantikan, si Teteh Montok… (haha..) teh Indah rekan-rekan, pak Faris juga selaku Head Manager tiba di Lokasi.
Disinilah kebersamaan meskipun terlihat sederhana kami merasakanya seru dan sangat berkesan WHOEVER THEY LIKE MY FAMILY (siapapun mereka seperti keluarga saya). Bukan seperti apa mereka kami disana apa yang kami lakukan, tapi rasa kebersamaan yang dikemas seperti kekeluargaan yang bagi saya pribadi sangat berkesan.
Semoga acara seperti ini bisa terus berlanjut untuk kedepannya dan bukan hanya karena ada sebuah perpisahan melainkan untuk kita saling bertukar pikiran mengenai pekerjaan dan yang lainnya, tentunya yang dapat menjadikan kita bisa saling memahami dan terus menjaga kebersamaan.
Thank for all. Sampai bertemu kembali diacara berikutnya.



